Rss

Sabtu, 11 Januari 2014

Kematian Ibunda Nabi Muhammad SAW

Ini materi yang aku dapet dari Dosen, semoga bermanfaat.

Kematian Ibunda Nabi Muhammad SAW

Kematian Ibunda

Ketika Nabi berusia 6 tahun, Aminah membawanya ke Medinah untuk diperkenalkan kepada saudara-saudara kakeknya dari pihak Keluarga Najjar. Dalam perjalanan itu dibawanya juga Umm Aiman, budak perempuan yang ditinggalkan ayahnya dulu. Sesampai mereka di Medinah kepada anak itu diperlihatkan rumah tempat ayahnya meninggal dulu serta tempat ia dikuburkan. Itu adalah yang pertama kali ia merasakan sebagai anak yatim. Dan barangkali juga ibunya pernah menceritakan dengan panjang lebar tentang ayah tercinta itu, yang setelah beberapa waktu tinggal bersama-sama, kemudian meninggal dunia di tengah-tengah pamannya dari pihak ibu.

Sesudah cukup sebulan mereka tinggal di Medinah, Aminah bersama rombongan kembali pulang dengan dua ekor unta yang membawa mereka dari Mekah. Tetapi di tengah perjalanan, ketika mereka sampai di Abwa’,2 ibunda Aminah menderita sakit, yang kemudian meninggal dan dikuburkan pula di tempat itu. Anak itu oleh Umm Aiman dibawa pulang ke Mekah, pulang menangis dengan hati yang pilu, sebatang kara. Ia makin merasa kehilangan; sudah ditakdirkan menjadi anak yatim. Terasa olehnya hidup yang makin sunyi, makin sedih. Baru beberapa hari yang lalu ia mendengar dari Ibunda keluhan duka kehilangan Ayahanda semasa ia masih dalam kandungan. Kini ia melihat sendiri dihadapannya, ibu pergi untuk tidak kembali lagi, seperti ayah dulu. Tubuh yang masih kecil itu kini dibiarkan memikul beban hidup yang berat, sebagai yatim-piatu. Lebih-lebih lagi kecintaan Abd’l-Muttalib kepadanya. Tetapi sungguhpun begitu, kenangan sedih sebagai anak yatim-piatu itu bekasnya masih mendalam sekali dalam jiwanya sehingga di dalam Qur’anpun disebutkan, ketika Allah mengingatkan Nabi akan nikmat yang dianugerahkan kepadanya itu: “Bukankah engkau dalam keadaan yatim-piatu? Lalu diadakanNya orang yang akan melindungimu? Dan menemukan kau kehilangan pedoman, lalu ditunjukkanNya jalan itu?” (Qur’an, 93: 6-7)

Nabi kemudian di bawah asuhan kakeknya, Abd’l-Muttalib. Tetapi orang tua itu juga meninggal tak lama kemudian, dalam usia delapanpuluh tahun, sedang Muhammad waktu itu baru berumur delapan tahun. Sekali lagi Muhammad dirundung kesedihan karena kematian kakeknya itu, seperti yang sudah dialaminya ketika ibunya meninggal. Begitu sedihnya dia, sehingga selalu ia menangis sambil mengantarkan keranda jenazah sampai ketempat peraduan terakhir.


SINOPSIS

Kura-Kura Tidak Tahu

Percaya gak dengan cinta pada pandangan pertama?
Aku akui awalnya aku percaya, bahwa cinta itu datangnya dari mata kemudian turun kehati. Bahwa cinta itu realistis, bahwa cinta itu cuman bisa dijelasin lewat apa yang kita lihat, dan bahwa cinta itu gak perlu waktu untuk nunggu sampai cinta itu nulis di status Facebooknya.

Kura-kura, hewan fosil yang masih abadi sampai sekarang. Hewan yang selalu woles dalam segala hal. Lihat dari cara dia jalan, makan, tidur, makan lagi, tidur lagi, dan seterusnya. Sebagian dari orang seperti kita, jadi kura-kura itu kadang enak kadang enggak. Enggaknya adalah kemana-mana harus bawa rumah, repot, capek.

Banyak penulis lain diluar sana mempersepsikan cinta dengan berbagai arti, Cinta Brontosaurus contohnya. Dikatakan bahwa cinta itu suatu saat bisa kadaluwarsa, tapi kenyataannya justru sebaliknya.

Masing-masing orang punya cerita cinta mereka sendiri. Seperti halnya, Cinta dan Kura-kura. Ada banyak alasan yang membuat cinta dan kura-kura bisa dikaitkan satu sama lain. Salah satunya seperti kura-kura yang penuh perjuangan mempertahankan rumahnya, sama cinta juga gitu perlu perjuangan untuk memperjuangan cinta.